Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Pentingnya Penerapan Bimbingan Konseling Dalam Masyarakat: Perspektif Teori Behavioral

Sukmawati Mahasiswi Prodi BKI IAIN Parepare Bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan masyarakat karena populasi yang beragam dan sejum...

Sukmawati
Mahasiswi Prodi BKI IAIN Parepare

Bimbingan dan konseling sangat dibutuhkan masyarakat karena populasi yang beragam dan sejumlah tipe serta ciri problem manusia yang makin meluas, Profesi bimbingan dan konseling merupakan profesi yang unik dan khas karena berbeda dengan profesi yang lain, sejalan dengan dinamika kehidupan, kebutuhan akan bimbingan konseling saat ini sedang dikembangkan pula pelaynan bimbingan dan konseling dalam setting yang lebih luas, seperti dalam keluarga, keagamaan, pra nikah, pernikahan,lingkungan dan lainnya.

                Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk, hal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan bimbingan kadang-kadang dilajutkan dengan kegiatan konseling. Beberapa ahli mengatakan bahwa konseling merupakan inti atau jantung hati dari kegiatan bimbingan, banyak ahli berusaha merumuskan pengertian bimbingan dan konseling.

                Peranan bimbingan dan konseling semakin penting di sekolah terutama untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, hampir dapat dipastikan bahwa dalam satu sekolah akan ditemukan murid yang memiliki masalah kesulitan belajar. Siswa yang mengalami kesulitan belajar tersebut harus diarahkan dan diberi motivasi dalam bentuk bimbingan konseling.

                Untuk menyelenggarakan layanan ini dengan baik, salah satu isyarat yang harus diketahui adalah memahami hakikat bimbingan dan konseling itu sendiri. Bimbingan dapat diartikan dalam suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan. Supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sendiri, sehinggah dia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak sewajarnya sesuai dengan tuntutan sesuai dengan keadaan lingkungan masyarakat, keluarga, sekolah, serta kehidupan pada umumnya.

                Bimbingan dapat juga diartikan sebagai suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dari konselor kepada klien agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan.

                Kata konseling dalam bahasa Indonesia diartikan dengan penyuluhan, yaitu bagian dari bimbingan, baik sebagai layanan maupun teknik. Jadi mengenai dengan siswa yang mulai malas belajar seperti sekrang ini sangat perlu dilakukan bimbingan konseling dengan teori behavioral agar siswa tersebut dapat mengubah tingkah lakunya sehingga menjadi lebih baik.

                 Konseling dengan menggunakan teori behavioral merupakan teori konseling yang efektif untuk melakukan modifikasin tingkah laku, yaitu menekankan tingkah laku maladaptif dan tingkah laku adaftif. Evaluasi mengenai keberhasilan konseling behavioral dalam menangani kasus kemalasan belajar, kecanduan alkohol di ungkapkan juga melalui analisis, konselor juga dapat menyesuaikan teknik konseling untuk menekankan tingkah laku.

                Konseling behavioral juga tidak memandirikan klien melainkan konseling behavioral menuntut konselor untuk terlibat aktif dan menggunkan pengetahuan ilmiah untuk menemukan persoalan individu, konselor dalam konseling behavioral mendiagnosa tingkah laku maladaftif dan menentukan prosedur penanganan yang cocok dengan masalah klien, dan konselor menentukan cara-cara yang digunakan untuk klien dakam usaha mengubah tingkah laku.

                Keterlibatan konselor dalam sebuah proses konseling yang aktif serta tidak melibatkan klien secara aktif dapat berdiri secara mandiri, klien harus mengikuti setgiap arahan dari konselor dan tingkah laku klien harus dikontrol oleh konselor agar mencapai tujuan konseling. Klien mungkin berhasil mengubah tingkah lakunya dalam sebuah proses konseling, akan tetapi terdapat kemungkinan bahwa klien tidak memahami siklus pemecahan masalah yang seharusnya ia pahami. Membantu klien tumbuh agar belajar cara pemecahan masalah yang lebih baik diemudian hari saat mereka menghadapi masalah merupakan hal yang penting dilakukan dalam sebuah proses konseling.

Pendekatan behavioral yaitu menaruh perhatian pada perubahan perilaku, Apabila ditelusuri, perkembangannya sudah sejak 1960-an konseling behavioral memberikan implikasi pada teknik dan stratefi konseling dan dapat diintegrasikan dengan pendekatan lain. Menurut George dan Chistiani, konseling behavioral berpangkal pada keyakinan tentang martabat manusia, yaitu sebagian dari falsafah hidup dan sebagian lagi bercorak psikologi, rincian pendapatnya sebagai yaitu, Manusia tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek, manusia memiliki potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah. Tujuan konseling behavioral adalah untuk mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat prilaku yang diharapkan dan meniadakan prilaku yang tidak diharapkan, serta membantu menemukan cara-cara berperilaku tepat.

                Berdasarkan bekal pembawaan dan interaksi dengan lingkungan maka terbentuk aneka pola prilaku yang menjadi ciri khas pada kepribadian individu, manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri, memahami apa yang dilakukannya, dan mengatur serta mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri suatu pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar, bila pola yang lama dibentuk melalui belajar, maka pola tersebut dapat diganti melalui usaha belajar yang baru.

Konseling behavioral dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah prilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama.

 Krumboltz & Thoresen menempatkan prosedur belajar dalam empat kategori, yaitu sebagai berikut:

1.       Belajar Operan (Operant Learning) adalah belajar didasarkan atas perlunya pemberian ganjaran (reinforment) untuk menghasilkan perubahan prilaku yang diinginkan.

2.       Belajar Mencontoh (Imitatif Learning), yaitu cara dalam memberikan respon baru dengan cara menunjukkan atau mengerjakan model-model prilaku yang diinginkan sehingga dapat dilakukan konseli.

3.       Belajar Kognitif (Cognitive Learning), yaitu cara belajar memelihara respon yang diharapkan dan boleh mengadaptasi perilaku yang lebih baik melalui instruksi sederhana.

4.       Belajar Emosi (Emotional Learning), yaitu cara-cara yang digunakan untuk mengamati respon-respon emosional konseli yang tidak diterima menjadi respon emosional yang dapat diterima sesuai dengan konteks classical conditioning.

Lalu penerapan dalam masyarakat yaitu mengembangkan kehangatan, empati dan hubungan suport, serta memberi kesempatan pada klien karena kerjasama positif pada klien, Jadi itulah sedikit uraian tentang pentingya bimbingan konseling dalam masyarakat dengan pendekatan teori behavioral.
Selanjutnya saat ini saya sedang dalam penelitian yang berjudul “Peranan penyuluh agama islam dalam membentuk akhlak remaja di Kelurahan Bukit Harapan Kec.Soreang Kota Parepare”. Remaja adalah harapan bangsa, di pundaknyalah segala cita-cita bangsa untuk dapat mengatur dan memperbaiki kehidupan dunia ini. Hal ini merupakan salah satu maksud diciptakannya manusia oleh Allah Swt. Salah satu faktor yang harus ditanamkan untuk bisa mencapai hal tersebut adalah masalah pembinaan akhlak remaja yang akan ditopang dengan Penyuluh Agama Islam dalam hal ini akan menunjang kehidupannya di dunia ini.

Salah satu penyebab timbulnya krisis akhlakul karimah yang terjadi saat ini dikarenakan orang sudah mulai kurang peduli dengan ajaran-ajaran agama, khususnya remaja yang identik dengan kehidupan bebas. Hal ini ditandai dengan beredarnya pola kehidupan yang bebas di Indonesia. Sikap mementingkan diri sendiri, egois, serta semakin pudarnya nilai sopan santun yang semakin menghinggapi dalam diri manusia dan remaja pada khususnya.

Persoalan remaja adalah persoalan yang sangat hangat dan menarik untuk diperbincangkan, karena remaja merupakan masa peralihan, di mana seseorang meninggalkan usia anak-anak yang penuh dengan ketergantungan kepada kedua orang tua, remaja pada hakikatnya sedang sibuk berjuang dalam menghadapi kehidupan lingkungan yang begitu kurang serasi, yang penuh dengan kontradiksi dan ketidak stabilan, yang akan sangat mudah jatuh kepada kesengsaraan batin hidup, penuh kecemasan, ketidak pastian dan kebingungan.

Penyuluh Agama Islam sebagai salah satu bentuk bimbingan,karena itu penyuluh hidup di tengah-tengah  masyarakat adalah merupakan figur yang ditokohkan, pemuka agama, tempat untuk bertanya, imam dalam masjid atau musholah, begitu pula dengan adanya aliran keagamaan hendaknya penyuluh agamadapat menjernihkan, tidak menambah keruh suasana dan berpedoman kepada Al-quran dan Al-Hadist.

Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1.       Bimbingan Agama (Religious Guidance)

                Teori ini untuk mengetahui bagaimana penyuluh agama dapat memberikan bimbingan agama kepada anak remaja di kelurahan bukit harapan. Bimbingan Agama(religious guidance) adalah bimbingan dalam rangka membantu pemecahan problem seseorang dalam kaitanya dengan masalah-masalah keagamaan, melalui keimanan menurut agamanya. Dengan menggunakan pendekatan keagamaan dalam konseling tersebut, klien dapat diberi insting (kesadaran terhadap adanya hubungan sebab akibat dalam rangkaian problem yang dialaminya) dalam pribadinya yang di hubungkan dengan keimananya yang mungkin pada saat itu telah lenyap dari dalam jiwan klien.

2.       Teori Peran

Teori peran adalah sebuah teori yang digunakan dalam dunia sosiologi, psikologi dan antropologi yang merupakan perpaduan berbagai teori, orientasi maupun disiplin ilmu. Teori peran berbicara tentang istilah “peran” yang biasa digunakan dalam dunia teater, dimana seorang aktor dala teater harus bermainsebagai tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia diharapkan untuk berprilaku secara tertentu. Posisi seorang aktor dalam teater dinalogikan dengan posisi seseorang dalam masyarakat, dan keduanya memiliki kesamaan posisi.