Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

RAMADAN; PENJEMPUTAN YANG KELIRU?

Opini M. Yasin Soumena Dosen dan Wakil Dekan Bidang AUPK FEBI IAIN Parepare RAMADAN, sebuah istilah ritual yang sudah melemb...


Opini
RAMADAN; PENJEMPUTAN YANG KELIRU?



M. Yasin Soumena




Dosen dan Wakil
Dekan
Bidang AUPK FEBI
IAIN Parepare





RAMADAN, sebuah istilah ritual yang sudah melembaga dalam setiap hati muslim. Term Ramadan, penuh dengan berbagai keunikan dan keistimewaan, sehingga sebahagian masyarakat muslim yang mendengar kedatangannya pasti mengucapkan Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadan “Selamat Datang Ya Ramadan”.




Sebahagian
masyarakat Islam lebih menggunakan tahniah yang sangat halus lagi, yakni Marhaban Ya Ramadan, yang bermakna “luas
atau lapang”. Setiap tahun, bulan ini hadir di tengah-tengah komunitas muslim
dalam memberi nuansa baru untuk manata hidup dan kehidupannya.




Kini,
bulan Ramadan itu datang lagi. Tapi sayangnya, tidak semua orang muslim senang
dengan kedatangannya. Mengapa? Karena bulan ini hanya diperuntukan bagi orang
yang beriman. Jadi yang tidak memiliki nilai-nilai keimanan otomatis tidak
ingin didatangi oleh bulan mulia ini.




Bagi
mereka yang beriman, pasti terharu dan gembira, bahkan meneteskan air mata kegembiraan
karena masih diberi kesempatan oleh Allah swt menjumpai tamu agung ini. Mereka
menganggap bahwa ini adalah tamu istimewa yang perlu dijemput.




Perlu
dijemput dengan suasana lapang dada dan penuh kegembiraan, kesucian hati,
penetesan air mata, menyiapkan suasana rumah yang bersih, menampakan wajah yang
berseri keharuan, bukan menggerutu, dan suasana indah lainnya.




Ini
terjadi seperti layaknya seorang yang baru bertemu tamu tercinta dan sangat
dirindukan setelah berpisah selama satu tahun. Siapapun pasti merasakan hal
yang sama ketika berpisah dengan tamu yang sangat disenangi dan dicintai,
kemudian dipertemukan kembali setelah setahun berpisah.




Apalagi
saat berpisah tahun lalu diwarnai “lambaian tangan” dan isak tangis
mengharukan. Bagi tamu agung ini, kita siap atau tidak, kita terima atau tidak,
kita jemput atau tidak ia pasti berada di tengah-tengah kita untuk melihat
suasana kehidupan selama satu tahun tersebut.




Persiapan




Menurut
Quraish Shihab, term marhaban
menggambarkan tamu yang datang perlu di sambut dan diterima dengan dada lapang,
penuh kegembiraan serta disiapkan ruangan yang luas untuk melakukan segala yang
diinginkannya. Dengan demikian, lanjut Quraish Shihab, Marhaban Ya Ramadan mempunyai konotasi bahwa kita menyambutnya
dengan penuh kegembiraan, tidak menggerutu, dan tidak menganggap kehadirannya
mengganggu ketenangan atau suasana nyaman kita.




Kita
siapkan tempat yang luas agar bebas melakukan apa saja yang berkaitan dengan upaya
mengasuh dan mengasah jiwa kita. Sayangnya, kita sering keliru memahami
kesiapan dalam menyambut bulan Ramadan. Kita bisa saja mudah mengucapkan Marhaban Ya Ramadan, tapi menjadi tanda tanya
apa yang perlu kita siapkan.




Bisakah
kita mengelak dan menjawab secara retorika bahwa kita sudah siap mental dan
fisik.Tapi jawabannya tentu tidak sampai di situ karena orang lain akan melihat
apa di balik tingkah laku seorang dalam menyambut bulan ini.




Banyak
orang telah siap mental dan fisik, tapi tempat dan lingkungan yang akan dihuni
tamu agung ini sungguh menyedihkan. Jauh dan tidak layak bagi seorang tamu
bernama Ramadan.




Coba
lihat praktik orang-orang di wilayah paling timur negeri ini, masyarakat Islam
di pesisir pantai daerah Maluku. Kebiasaan yang sudah membudaya, yakni setiap
menjelang bulan Ramadan semua peralatan rumah dibawa ke sungai atau laut untuk
dibersihkan.




Rumah
dan lingkungan dicat dan dibersihkan dari debu atau kotoran yang dianggap dapat
mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, sehingga saat masuk bulan Ramadan hidup
mereka terasa bersih dan nyaman. Mereka membersihkan rumah dan halaman bukan
menjelang hari raya Idul Fitri, tapi menjelang Ramadan.




Ini
berbeda dengan yang dipraktikan di daerah ini (Sulsel). Sebahagian besar
masyarakat membersihkan rumah dan lingkungan menjelang lebaran. Prinsip baku
dan sudah merupakan “warisan” nenek moyang, biar hidup dalam suasana apa
adanya, nanti menjelang lebaran baru dibenahi.




Konotasinya,
ternyata yang disiapkan bukan untuk tamu agung itu, tapi tamu antar sesamanya. Terasa
malu jika tamu yang datang berhaalal bi
halal
melihat suasana rumahnya tidak indah. Tapi tidak merasa malu ketika
tamu agung yang datang itu melihat suasana rumah dan lingkungannya penuh
kotoran.




Tamu
agung ini tentu akan bertanya, bisakah Anda berpuasa dengan baik jika
lingkunganmu tidak sehat? Jawabannya, bisa “ya” dan bisa “tidak”, tergantung
manusianya. Karenanya, perlu dirubah pola pikir dan praktik kita, bahwa
sebaiknya pembersihan rumah dan lingkungan itu dilakukan menjelang Ramadan,
bukan menjelang lebaran. Sebab, yang lebih diutamakan adalah Ramadannya, bukan
lebaran.




Wallahu ‘Alam bi
al-Sawab