Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Ketika ghazwatul fikri menyerang mahasiswa BKI

Lola Nabilla, S.Sos Alumni Prodi BKI IAIN Parepare Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam saat ini telah diserang melalui ghozwatul fiq...

Lola Nabilla, S.Sos
Alumni Prodi BKI IAIN Parepare

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam saat ini telah diserang melalui ghozwatul fiqr (perang pemikiran) dengan tiga F, yakni: Film, Fashion, dan Food.  Realita menunjukkan semua mahasiswa lebih senang berada pada zona nyaman ketimbang keluar dari zona tersebut, kecanggihan teknologi membuat habituasi baru yang berbeda dari era sebelumnya.

Ghazwatul fikr telah terjadi sejak Nabi Adam As. diturunkan ke Bumi, oleh Allah SWT. karena telah melanggar perintah-Nya untuk tidak memakan buah khuldi. Sedangkan teknik ghozwatul fiqr semakin berkembang mengikuti zamannya. Lalu dikembangkan oleh orang yahudi dengan desain yang begitu manis,  bertujuan untuk menghancurkan karakter penerus generasi Islam terutama para pemuda.

Teknik yang digunakan tidaklain adalah film, fashion, dan food yang kini telah menjajah pemikiran mahasiswa. Sehingga yang terbentuk adalah minim karakter dan tidak memiliki keteguhan identidas dalam dirinya, bagaikan gelas kosong ia akan terisi dengan sesuatu yang datang dari luar. Menjadikan dirinya bukan mewarnai melainkan diwarnai.

Semua ini terjadi tanpa terbendung, dikarenakan kebiasaan di era sebelumnya yaitu membaca dan menulis adalah habituasi yang tertanam dalam diri mahasiswa, namun sekarang telah terganti oleh  film, fashion dan food. Melalui media segala informasi dengan mudah terpublikasi dan sangat cepat dikonsumsi oleh publik.

Mahasiswa yang tidak memiliki karakter dan keteguhan  identitas pada dirinya, akan dengan mudah menerima informasi tanpa memfilternya terlebih dahulu. Mengapa ini terjadi? Karena mereka belum menemukan identitas dirinya dengan kata lain ada fase yang gagal ia lewati menurut Erik Erikson, yakni identitas versus kekacauan identitas yang terjadi pada usia 12 hingga 18 tahun.

Melihat realita yang terjadi dikalangan mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam terkhusus semester tiga membuat hati sangat miris. Mereka yang dikatakan para pemuda penerus generasi bangsa dan agama malah terlena dengan kecanggihan teknologi yang ada, bukan malah memanfaatkannya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

Mahasiswa dengan semangat membahas apa yang saat ini menjadi tren dalam hal film, fashion, dan food  dan segudang pembahasan lainnya, daripada mendiskusikan pengetahuan baru dari hasil bacaannya. Sekalipun ada mahasiswa yang memanfaatkan kecanggihan teknologi itu tidak lain untuk menyalin materi langsung dari blog untuk memenuhi tugasnya

Inilah bibit mahasiswa minim karakter tanpa keteguhan identitas, semua hal yang dikerjakan tidak mau melalui proses yang benar namun dengan cara yang instan. Mereka lebih baik menonton sebuah film melalui smartphone pintarnya atau leptop daripada membaca sebuah buku.

Saat dosen memberikan tugas dengan cepat jemari membuka layar handphone mencari jawabannya, tanpa membaca dulu referensi yang disediakan di perpustakaan. Buku menjadi nomor kesekian dalam mengerjakan tugas dan internet menjadi nomor satu.
Penjajahan yang dilakukan oleh orang cerdas memang kini sudah tidak terlihat langsung seperti dahulu, di mana-mana terjadi pertumpahan darah para pahlawan untuk mempertahankan negara Indonesia. Namun saat ini dengan tiga F saja semua mahasiswa sudah terlena dan mengabaikan hal penting yang dikemudian hari menjadi sebuah penyesalan.

Film percintaan yang tayang ditelevisi, youtube, dan lain-lain sudah mengambil banyak waktu mahasiwa untuk meluangkan waktunya sejenak membaca buku dan menulis. Fashion yang menjadi tren saat ini ditiru sekalipun itu tidak layak dan sama sekali tidak memiliki nilai. Dan food yang dikonsumsi semuanya serba instan dan tidak memiliki gizi yang diperlukan oleh otak maupun tubuh.

Ghazwatul fikr yang menyerang mahasiswa Bimbingan Penyuluhan Islam telah tejadi dan menjadi habituasi yang tidak tebendung lagi. Semua tugas dikerjakan dengan cara yang instan bukan lagi dengan cara membaca buku terlebih dahulu lalu menulis, menyalin pekerjaan teman adalah kebiasaan lama yang dibawa hingga ke bangku perkuliahan, berdiskusi dengan lantang namun tidak memiliki isi dan hanya satu pegangan buku atau “om google” yang menjadi landasan acuannya.

Karakter yang minim lebih mayoritas daripada minoritas, kebingungan terus terjadi tanpa mencari jalan keluar yang tepat. Zona nyaman telah menjadi habituasi yang tidak ada kualitasnya hanya kuantitas yang kian bertambah tanpa keluar dan melakukan hal yang spektakuler.

[]