Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Belajar dari Harmonisasi Keluarga Abu Lahab

Emilia Mustary, M.Psi., Psikolog Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Parepare Pada umumnya, kata harmonis ...


Emilia Mustary, M.Psi., Psikolog
Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Parepare

Pada umumnya, kata harmonis selalu disandingkan pada kebaikan. Pasangan yang harmonis adalah adanya keselarasan kebaikan antara suami dan istri. Tapi ternyata, ada kisah pasangan harmonis lain yang diceritakan dalam Al Qur’an dan membuat tertegun dengan kisahnya yang abadi. Keharmonisan hingga akhirat tapi berujung pada kebersamaan di Neraka. Naudzubillah. 

Kisah tentang Abu Lahab yang sangat kompak, serasi, dan saling mendukung. Tapi sayangnya semua diarahkan pada keburukan dan menjadi penghambat utama dalam dakwah Rasulullah Muhammad SAW. Mereka secara sempurna memainkan peran suami dan istri yang kompak, tapi kompak dalam  keburukan. Mari belajar untuk tidak meneladani Abu Lahab.

Rasulullah adalah sebaik-baik teladan dalam membangun keluarga yang harmonis. Dari Ibunda khadijah kita belajar tentang keutamaan mendukung suami dalam kebaikan dan menjadi tempat berlabuh, tempat untuk pulang, dan tempat untuk mencari ketenangan. Dari Ibunda Aisyah kita belajar tentang bagaimana menjadi istri yang dapat menjadi partner diskusi suami dan suami tidak segan untuk mencari solusi melalui diskusi interaktif dengan istrinya. Dan dari ibunda Zainab kita belajar tentang bagimana menjadi sama dalam kebaikan, khususnya dalam sifat kedermawanan. Kebaikan yang dimiliki suami sebaiknya diikuti dan diteladani oleh istri, bukan justru menjadi penghambat. 

Namun, kisah lain jika kenyataan pasangan yang hadir tidak sesuai harapan. Tidak mampu menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dan teladan keluarga. Maka ada kisah dari ibunda Asiyah istri Fir’aun. Tak ada manusia yang lebih jahat dari Fir’aun. Namun kesabaran dan ketabahan Asiyah membuatnya mendapatkan rumah di sisi Allah swt. Maka jika dalam perjalanan rumah tangga semua yang kita harapkan nampak tak hadir dalam diri pasangan, khususnya ketika berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, maka ibunda Asiyah sebaik-baiknya contoh. Ada pilihan sabar dan harap disana.   

Pasangan yang kurang harmonis, tidak berjalan selaras, berbeda visi dan misi memanglah sangat berat dalam menjalaninya. Namun hal tersebut tidak boleh menjadi legitimasi buat pasangan tersebut untuk mencontoh pasangan Abu Lahab. Ada kisah indah dari Ibunda Asiyah yang menjadi teladan. Dan yang terpenting, beberapa kisah ketidakharmonisan rumah tangga terjadi karena perempuan tidak menjalankan perannya dengan baik sebagai istri dan ibu yang merupakan amanah dari Allah swt. 

Kecemburuan, ketamakan, pergaulan yang keliru, serta cinta dunia dapat menjadi asbab dari munculnya ketidakharmonisan dalam rumah tangga. 

Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita dalam iman islam. Amin ya Rabbal Alamin.

Tidak ada komentar