Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Delusi: Penyakit jiwa yang lebih bahaya dari Corona

Muhammad Haramain Kaprodi BKI IAIN Parepare Bismillahi wa bihamdihi Tulisan seserhana ini membahas singkat tentang delusi yang ber...

Muhammad Haramain
Kaprodi BKI IAIN Parepare


Bismillahi wa bihamdihi
Tulisan seserhana ini membahas singkat tentang delusi yang bersifat paranoia, muluk dan somatik akibat terpapar “informasi berlebihan” tentang covid-19.

Delusi (waham/al-wahmu) biasa dipahami sebagai keyakinan atau kesan yang keliru, dipegang teguh oleh seseorang, meskipun itu bertentangan dengan realitas dan apa yang secara umum dianggap benar. Setidaknya terdapat tiga jenis delusi; delusi paranoia, delusi muluk, dan delusi somatik.

Pertama, seseorang yang mengalami delusi paranoia, dapat saja berfikir bahwa jika ada seseorang yang batuk dan bersin berlebihan disampingnya, maka ia menganggap sedang bersama seorang penderita covid-19

Kedua, seseorang dengan delusi yang muluk-muluk, dia akan merasa sebagai orang yang penting secara berlebihan, seakan dunia berputar, dan dia adalah porosnya. Gejala delusi ini bisa jadi menjangkit para penyebar berita hoax atau informasi yang menyebabkan kepanikan massal. Seseorang yang menganggap dirinya yang paling penting sebagai informan yang merasa sukses mempengaruhi banyak orang.

Ketiga, delusi somatik adalah ketika seseorang percaya bahwa mereka akan atau sedang terjangkit virus yang mematikan, namun pada kenyataannya ia sehat.

Delusi kerap timbul sebagai ekspresi kejiwaan terhadap adanya rangsangan eksternal. Itu berarti berkaitan dengan bagaimana seseorang melihat, mendengar, merasakan, atau mencium sesuatu yang ada. Misalnya, jika seseorang mendengar gejala terjangkit virus covid-19 adalah batuk, tenggorokan gatal atau sesak nafas, maka serta merta ia merasa seakan terjangkit jika mengalami hal sejenis, padahal belum tentu.
Delusi adalah setengah dari penyakit. Ketenangan adalah setengah dari obat. Kesabaran adalah awal dari penyembuhan. -Ibn Sina.
Ibn Sina menjelaskan bahwa delusi itu berbahaya. Delusi dapat mempengaruhi seseorang kehilangan keyakinan positif (self esteem), bahkan keyakinan atas kemampuan diri sendiri (self-efficacy). Konteks penyebaran covid-19 yang massif saat ini, dapat saja diperburuk oleh keadaan kejiwaan seseorang yang delusif. Baik pada Orang Dalam Pengawasan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), Positif Covid-19, bahkan lebih buruk lagi pada mereka yang sehat secara fisik, namun kejiwaaannya terjangkit delusi hebat.

Dalam menangani delusi ini, setidaknya terdapat dua langkah;

Pertama, jangan berputus asa dari rahmat Tuhan (La tay’asu min rauhillah, Q.S. Yusuf:87). Sikap optimisme penting untuk dijaga kaitannya dengan era pandemik virus seperti saat ini. Pesan Ya’qub kepada putra-putranya akan ketidakpastian hidup mereka di masa kemarau panjang serta kemungkinan akan mendapat bantuan logistik dari adeknya Yusuf, yang masa kecilnya dizhalimi mereka, dan ketika besar ternyata telah menjadi pejabat tinggi di Mesir. Pesan Ya’qub ini menegaskan agar senantiasa optimis dan jangan mudah menyerah dengan keadaan.

Kedua, mencegah lebih baik daripada mengobati (al-wiqayah khayrun minal-‘ilaaj). Langkah pencegahan delusi itu penting di era disrupsi. Pesan dan dinding media sosial kita penuh dengan hantaman informasi yang tak kunjung henti, yang belum tentu benar adanya. Sebaiknya kita selektif dalam meng-konsumsi informasi. Karena informasi seperti makanan, ada yang bisa kita kunyah, ada juga yang harus disisihkan. Contohnya, anda takkan mungkin makan durian dengan bijinya sekaligus.

..

to be continued..

wa ma taufiqy illa billah 

Parepare, 27 Maret 2020