Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Wabah Virus Corona dan Kebersamaan Kita: Sebuah Catatan Semangat untuk Para Mahasiswa

Adnan A. Saleh, M.Si. Dosen Prodi BKI IAN Parepare Untuk adik-adik mahasiswa Bimbingan Konseling Islam, yang saya banggakan Saya ...

Adnan A. Saleh, M.Si.
Dosen Prodi BKI IAN Parepare

Untuk adik-adik mahasiswa Bimbingan Konseling Islam, yang saya banggakan

Saya ingin menyapa teman-teman dari rumah saya di Pangkajene, bersama istri dan anak saya. Semoga adik-adik semua dalam keadaan sehat baik fisik maupun mentalnya yaa. Kalau sedang di rumah, titip salam buat orang tuamu yang hebat karena telah melahirkan dan membesarkan kalian yang sopan lagi pintar yang penuh semangat. Kalau kalian sedang di kost, titip salam buat toples cemilianmu yang sisa sepertiga itu, atau mungkin dompetmu yang sedang menipis ;), banyak-banyaklah bersabar, kelak akan ada hari kamu tak akan mampu lagi makan karena punya stok kelebihan.

Gimana kabar sepekan ini, ribet? bisa jadi yaa, karena sedang mendapatkan kebiasaan yang baru, belajar melalui interaksi bantuan elektronik. Semua mengalami itu, saya pun yang memfasilitasi kelas juga. Saya mendengar dosen lainnya juga, begitupun bagian staf akademik. Memang, kebiasaan baru akan sedikit butuh kesabaran seperti momen saya waktu akad nikah, nangis, tak sanggup, tapi saya lakukan dengan pelan akhirnya sampai juga, SAH! Begitu senangnya.

Saya teringat dengan teori Difusi nya Rogers, dia bilang seseorang dapat mengubah kebiasaan dalam waktu singkat apabila dampak kebiasaan lamanya sudah dirasakan langsung akibatnya (observability). Dalam kasus wabah corona ini, kebiasaan lama seseorang adalah apa yang dilakukan sehari-hari (banyak bergaul diluar rumah, bertemu dengan odo’2 na), dan kebiasaan baru adalah diam di rumah selama 14 hari. Nah rubah-rubah mi ki sedding kebiasaan ta, kurangi mi ktemu odo2’ ta sampaina SAH!

Adik-adik ku yang hebat,

Beberapa hari ini, saya mendengar kabar gembira, hampir semua mahasiswa yang aktif di angkatan 2015 telah resmi menyandang gelas sarjana sosial (S. Sos.) di bidang Bimbingan Konseling Islam, saya melihat keceriaan mereka melalui foto dalam satu frame, yang mereka pasang di media sosial mereka, ada yang menyempatkan berfoto bersama dosen dan lebih banyak saya melihat berfoto dengan teman seangkatan, dan ada juga saya lihat berfoto berdua dengan calon “teman akad nikah”nya, semoga. Tapi sayang, puncak perayaan kebahagiaanya “wisuda” harus ditunda karena usaha pihak kampus kita meminimalisir penyebaran virus corona.

Sedang kalian yang hari ini sedang menuju perjalanan (wisuda) ke sana, baik-baiklah, jaga kesehatan, lebih banyak berdiam dirilah di tempatmu masing-masing. Kurangilah nongkrong di warung kopi, pinggir pantai, dekker, lapangan, apalagi sampai berduan dengan hmm hmm mu, jangan!

Hari ini yang bijak adalah banyak-banyak lah membuka Al-Qur’an dan bila memiliki kitab Hadits, bukalah dan serapilah setiap teks dan kandungannya. Kalau kamu sanggup, hafallah, teman! Sekata dua kata, sebaris dua baris, selembar sampai satu juz. Rendahkan akal dan qalbumu, dekatkan dengan Pemilik Semesta, lebih seringlah bangun tengah malam, temukan “diri sesungguhnya di sana”

Jang ki membagikan informasi yang kita sendiri belum yakin pasti kebenarannya, tahan-tahan ki mau dibilang paling pertama bagikan ki, naa sudah keren mi ki, jang mi tambai, karena nda mungkin bakal mu kala keren ki Syahrul Gunawan, atau Rafii Ahmad.

Teman, saat kamu membaca tulisan ini, berjanjilah, bukan kepada ku tapi kepada dirimu, bangunlah tengah malam sepertiga malam ini, kecuplah indahnya malam, renggutlah bersama melodi kasih Ilahi, Dialah pemilik Jagad Semesta. Bisikkan kepadaNya, lembut dan pelan, Bismillah, saya ingin lebih baik. Tancapkan doamu di langit tinggi, gantungkan dan yakinkan semesta menjawab.

Dan, saat kamu melihat wajah saudaramu (adik/kakak) yang sedang terlelap, bisiklah Tuhan, titipkan namanya kepadaNya, pancatkan doa-doa kebaikan untuk mereka
Dan, saat kamu memandang wajah orang tuamu, orang yang membersamaimu sampai saat ini, hadirkan masa kanak-kanakmu, betapa indah teman2 lalui dengan mereka, kalau ada salah, itu sudah wajar, tapi yakinlah mereka pasti anggap sebagai bentuk kasih sayang. Pandanglah dengan penuh kasih sayang karena belum tentu kamu akan bisa melakukannya setelah terbit matahari pagi ini.

Tapi ingat, boleh saja kamu mencintai keluargamu dan diri mu sendiri tapi cintaimu pada Allah dan RasulNya, Muhammad yang lebih harus kamu tinggikan. Cinta Allah dan Muhammad melebih cintamu pada dirimu dan keluargamu terlebih asset yang kamu miliki saat ini. Cinta terhadap makhluk hanya untuk penghormatan, karena kasih sayang, dan untuk kebaikannya. Namun, diatas itu, dahulukan cintamu pada Allah dan RasulNya.

Teman, beberapa hari ini, langit di atas rumahku sedang mendung, sinar matahari sedang redup, teriknya lebih sering terselubung oleh tebal awan, ingin ku berjemur namun sedikit terhalang, tapi semangat diriku tak pernah redup, seperti dirimu, teman. Langkah kaki kita masih jauh, tetaplah semangat dan ikhlas belajar.

Baik-baik lah disana..

Kelak kalau kita dijadwalkan bertemu lagi, ingat ki bawa beng-beng yang ada tulisannya ‘kangen kamu’.

Pangkajene, 22 Maret 2020




Tidak ada komentar