Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

#DiRumahAja: menguatkan atau merenggangkan ikatan keluarga?

Emilia Mustary, M.Psi.Psikolog Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Parepare Ada yang menarik sekaligus mencengangkan da...


Emilia Mustary, M.Psi.Psikolog
Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Parepare

Ada yang menarik sekaligus mencengangkan dari kasus covid-19 outbreak di Cina. Kabar bahagia bahwa angka pasien yang terjangkit virus telah menurun drastis serta masa karantina wilayah yang telah berakhir membuat kehidupan mulai kembali normal. Namun, di sisi lain sungguh sangat menyedihkan melihat laporan dari media massa bahwa angka perceraian meningkat pesat pada awal bulan maret 2020 bersamaan berakhirnya masa karantina wilayah di sana. Tiga kota di Cina yang dilaporkan memiliki angka pengajuan perceraian tertinggi yaitu Kota Xian, Dazhou, dan Miluo. Selain itu, angka kekerasan dalam rumah tangga juga meningkat pesat. Salah seorang polisi di Provinsi Hubei Tengah melaporkan 162 kasus KDRT selama bulan februari (Dikutip dari laman ayobandung.com, 3/4/2020).

Lockdown atau karantina wilayah mengharuskan setiap warga untuk mengisolasi diri di rumah dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Pandemic covid-19 ini menghadirkan kebiasaan-kebiasaan baru bagi masyarakat, dari social distancing hingga physical distancing. Di Indonesia social dan physical distancing dikampanyekan dengan tagar #dirumahaja. Dengan adaya kebijakan pembatasan sosial ini membuat sebagian besar kegiatan masyarakat berubah secara drastis, seperti aturan berkerja dari rumah, sekolah dari rumah, kuliah daring, dan berbagai macam aktivitas lainnya yang berfokus pada rumah. Kondisi ini tentu saja membuat anggota keluarga secara tiba-tiba dipaksa untuk tinggal dirumah dan beraktivitas di rumah secara bersamaan 24 jam dan dalam kurun waktu yang belum bisa dipastikan.

Perubahan kebiasaan secara drastis ini ternyata memiliki pengaruh pada  harmonisasi rumah tangga. Anggota keluarga yang biasanya hanya bertemu dan berinteraksi langsung di rumah dalam waktu 6-12 jam kemudian diharuskan berada dalam satu tempat dalam hal ini rumah selama seharian dengan beban kerja atau tugas masing-masing. Sebagian besar juga kondisi #dirumahaja membuat para anggota keluarga khususnya orangtua memiliki peran ganda, sebagai ibu, istri, guru bagi anak, menyiapkan makanan, membereskan rumah, dll. Begitu pula dengan peran bapak serta anggota keluarga lainnya. Selain itu, ketidakstabilan kondisi emosi masing-masing anggota keluarga serta komunikasi yang kurang efektif juga akan beresiko meningkatkan frekuensi percekcokan jika tidak dihadapi dengan bijaksana.

Salah seorang pengacara perceraain di Cina bernama Shanghai Steve Li mengemukakan bahwa ,
“semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, semakin mereka saling membenci.”

Sangat menyedihkan jika melihat fakta yang terjadi. Kembalinya orangtua di dalam rumah sebagai pendidik utama ke anak bukankah sudah seperti itu harusnya. Tapi fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa beberapa orangtua mulai mengeluhkan beratnya beban mendampingi anak belajar. Bahkan ramai di sosial media meme yang menunjukkan kekhwatiran anak saat diajar oleh orangtuanya. kondisi lain dikabarkan bahwa kebersamaan di rumah rentan memicu perbedaan pendapat antar suami dan istri, bahkan orangtua dengan anak remajanya. Aktivitas yang hanya di rumah saja memang sangat beresiko membuat orang merasa jenuh, bosan, mati gaya, stress, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Tapi, itu semua terjadi jika rumah kita selama ini hanya sebagai tempat untuk tidur dan makan. Bukan rumah untuk kembali pulang melepas penat. Kebosanan dan kejenuhan bersama anggota keluarga hanya akan terjadi jika keluarga kita bukanlah keluarga yang menyenangkan, bukan harta yang berharga seperti keluarga cemara, keluarga yang tanpa tujuan karena tak punya visi dan misi keluarga. Perasaan-perasaan negatif selama di rumah hanya akan terjadi jika tak ada tarbiyah keislaman dan cita-cita akhirat untuk berkumpul di surga bersama keluarga di dalam rumah tersebut.

Lalu, seperti apa keluarga kita saat ini? Apakah rumah kita sudah menjadi rumah yang dirindukan? Apakah keluarga kita telah menjadi penyejuk hati kita? Apakah sebagai orangtua telah melaksanakan tanggung jawab pendidikannya ke anak? Apakah kebersamaan dengan keluarga sesuatu yang sangat istimewa? Sehingga aturan #dirumahaja ibarat surga bagi kita. Atau justru sebaliknya, rumah adalah neraka sehingga aturan #dirumahaja ini sungguh sangat menyiksa.

Tidak heran jika himbauan #dirumahaja begitu menyiksa bagi sebagian besar keluarga. Sebab perkembangan zaman saat ini memang menuntut keluarga jauh dari rumahnya. Ayah dan ibu sama-sama bekerja, anak di sekolah hingga sore hari, pekerjaan rumah higga pengasuhan bayi diserahkan ke asisten rumah tangga. Revolusi industri yang berhasil membuat manusia seperti robot dan budak materi serta menjauhkan dari fitrahnya sebagai abdi Allah swt.  Nafsu dunia yang melalaikan manusia dari keinginan bersama dengan keluarga di surga sebagai cita-cita hdup.

Pada keluarga lain, himbuan #dirumahaja  merupakan hadiah yang sangat berharga bagi keluarga. Anak yang merindukan kebersamaan dnegan ibu dan ayahnya. Orangtua yang merindukan merawat langsung buah hatinya. Tanggung jawab pengasuhan yang langsung dipegang oleh orangtuanya, dan tarbiyah keislaman serta ajaran mengaji yang langsung didapatkan dari ayahnya sungguh sesuatu yang sangat lama dinantikan oleh banyak keluarga karena selama ini waktunya habis tersita dengan pekerjaan.

Saatnya menengok ke dalam diri. Apakah hadiah istimewa #dirumahaja menjadikan kita semakin akrab secara fisik dan emosi dengan keluarga atau justru sebaliknya, semakin menjauhkan hati kita dengan anggota keluarga? 

Sebagaimana yang diucapkan Rachel Smith seorang seniman Kanada yang menetap di Hongkong bahwa, “karantina rumah dan jarak sosial mengingatkan saya betapa saya mencintai orang yang saya nikahi.” (Ayobandung.com, 3/4/2020)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah atas apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim:6)

[]