Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE

Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare

Pages

Classic Header

{fbt_classic_header}

Header

//

Search

Kesehatan Mental ditengah Pandemi Covid-19

Rahmiah Rahman Mahasiswi Prodi BKI IAIN Parepare Sejak 18 Maret 2020, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman setelah 04 Febru...

Rahmiah Rahman
Mahasiswi Prodi BKI IAIN Parepare

Sejak 18 Maret 2020, saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman setelah 04 Februari  lalu terakhir kali saya mengisi suasana di rumah. Lagian imbauan untuk #dirumahaja sudah mulai didengungkan pemerintah saat itu.

Menyediakan waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan berkunjung kembali ke kampung halaman adalah salah satu dari hal penting yang saya lakukan walaupun sebagian orang meletakkan istilah pulang kampung di list catatan nonprioritasnya . Sebab, disadari atau tidak manusia tidak hanya berkaitan dengan manusia lainnya, tetapi juga dengan kampung halamannya.

Topofilia merupakan istilah psikologi yang mungkin bisa disematkan pada saya. Yaa… saya akan menulis tentang covid-19 yang membuat saya tertegun akan pengaruh yang ditimbulkan. Hingga salah satu pernyataan yang berbunyi “ untuk pertama kalinya di dalam sejarah manusia, bersatu kita mati bercerai kita selamat ” sempat ramai dijadikan anekdot oleh warganet. Ini juga bentuk upaya beberapa dari segelintir orang yang mengamini bahwa menulis merupakan salah satu pengalaman katarsis yang dapat membantu untuk mendamaikan antara nalar dan perasaan.

Virus corona atau covid-19, masih menjadi isu hangat di dunia international, termasuk di Indonesia. Masif dan cepatnya penyebaran virus ke sejumlah negara menjadi hal mendasar sehingga  pada Rabu (11/3) organisasi kesehatan dunia ( WHO ) secara resmi menyatakan wabah corona sebagai pandemic global.

Mencermati situasi tanah air yang dalam batas-batas tertentu boleh disebut patologis ditengah mewabahnya virus ini. Hal  ini dapat dilihat dari akutnya praktik penguburan masker, miskinnya keadaban politisi yang sempat ingin membebaskan napi koruptor, gaduhnya masyarakat akibat stigmatisasi covid-19, saling klaim kebenaran antar masyarakat terkait fatwa yang sudah jelas dikeluarkan MUI, dan mudah pecahnya konflik antarkampung karena saling menuduh membawa virus menjadi petunjuk bahwa setiap elemen bangsa ini belum sepenuhnya utuh menjadi satu kesatuan bangsa yang bersemboyan “Bhineka Tunggal Ika.”

Penyebaran covid-19 yang eskalasinya semakin meningkat juga membuat kita melakukan physical distancing sebagai salah satu bentuk upaya dalam melandaikan kurva penyebaran. Namun, tidak berhenti sampai disitu. Pandemi covid-19  selain menyerang kesehatan fisik, juga berdampak pada kesehatan jiwa. Apalagi saat ini masyarakat sedang diliputi kecemasan karena ketidak pastian kapan pandemi ini akan berakhir.

Nova Riyanti merupakan ketua perhimpunan dokter spesialis kedokteran jiwa  mengungkapkan pandemi yang dialami saat ini bisa membuat orang cemas, stress, depresi, hingga memicu bunuh diri. Faktor penyebab terganggunya kesehatan mental sempat dituturkan Nova dalam keterangan yang diterima CNNIndonesia.com " Isolasi adalah pemicu utama. Juga ketakutan tertular Covid-19, kehilangan pekerjaan, dan melihat orang-orang terdekat sakit bahkan meninggal karena Covid-19.”

Penyebab lainnya juga banyak memupus semangat perkuliahan mahasiswa di kampus. Mulai dari kebingungan adaptasi dengan suasana yang serba baru  ( daring ) , kecemasan terhadap program kerja yang terkendala, panik terhadap tugas yang diberikan, rasa bosan, serta banyak hal yang perlu dipersiapkan selama kuliah online.
Hal ini menunjukkan bahwa, secara emosional setiap individu mungkin memiliki respon yang berbeda terhadap interaksi sosial yang berkurang dari biasanya.

Meskipun beberapa mungkin akan merasa aman dalam melakukan physical distancing, tetapi bagi mereka yang banyak bertumpu  dan mengais kehidupan diluar rumah sebutlah para driver ojol, pedagang kaki lima, tukang jajanan keliling, tukang becak dan tukang parkir mungkin akan merasa kesepian dan tertekan jika harus melakukan karantina. Lain halnya dengan kodisi ibu hamil yang ketakutan jika dipisahkan dengan sang bayi bahkan rasa bersalah terhadap bayi karena melahirkannya ditengah pandemic covid-19, juga pengurangan pertemuan medis sebelum melahirkan yang seharusnya tak dirasakan..

Selain itu, media sebagai bagian dalam menyebarluaskan informasi perlu ditimbang dalam menghadapi epidemi. Peran media dalam menanggulangi sama penting dengan dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Kebijakan media dalam memutuskan berita yang layak dipublikasikan juga berkontribusi membentuk perbincangan publik. Bahkan akhir-akhir ini media sangat memborbardir kepanikan warga akibat frekuensi hoaks terkait covid-19 terus meningkat. Sesuai data yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 29 Maret 2020 pukul 19.00, tercatat 384 informasi hoaks yang beredar melalui media sosial, aplikasi percakapan Whatsapp, dan tautan pada situs internet.

Dari waktu ke waktu tema informasi hoaks pun beragam. Mulai dari hoaks kasak-kusuk terkait ada atau tidaknya pasien yang positif dirujuk pada rumah sakit kota/kabupaten tertentu, berikutnya berita hoaks yang menyasar sejumlah pejabat, tokoh, publik figur yang dikabarkan terkena virus, kebijakan karantina wilayah (lockdown), hingga konten hoaks terkait anti virus corona jika mengonsumsi telur rebus yang sempat membuat kepanikan warga di beberapa daerah.

Dilansir dari CNNIndonesia.com, psikolog Anna Surti Ariani mengemukakan bahwa sebenarnya penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya akan memicu kecemasan banyak orang yang membuat orang tidak dapat berpikir jernih dan justru ketakutan meski hanya mendengar atau melihat informasi. Menyaring informasi dari beragam media memang tidak mudah dan membutuhkan sedikit usaha. Tanpa pemahaman, siapapun pasti terperosok pada kekhawatiran yang lebih luasnya dapat menyebabkan kodisi trauma.

Rentetan peristiwa tersebut membuat siapapun dapat merasakan behavioral disengagement dan mental disengagement. Keadaan behavioral disengagement terjadi saat kondisi seseorang kurang berusaha dalam menghadapi tekanan atau stressor bisa saja terjadi. Orang tersebut dapat menyerah atau menghentikan usaha untuk mencapai tujuan karena terganggu oleh stresor. Kondisi tersebut juga bisa dikatakan sebagai wujud ketidakberdayaan. Terkadang pula berada dalam keadaan mental disengagement, dimana kondisi ini  individu melarikan diri dari masalah dengan cara melamun, mengkhayal, tidur, atau terpaku menonton TV.

Kini mood masyarakat disarankan untuk melakukan manajemen stress dan beradaptasi dengan physical distancing. Penting pula untuk memikirkan dukungan konkret terkait kesehatan jiwa. Rumah ataupun keluarga merupakan salah satu dari tempat nyaman untuk meregulasi emosi untuk tetap tenang. Dukungan satu sama lain dengan saling mengingatkan untuk optimis hidup bersih bahwa ketakutan ini akan berakhir akan lebih memberi pengaruh pikiran dan perasaan  yang positif.

Selain itu, merencanakan suatu tindakan berkaitan dengan ketekunan dan pengembangan diri untuk mengatasi masalah melalui efikasi diri juga sangat membantu.  Kemampuan  resiliensi juga merupakan upaya dalam mempersiapkan pribadi yang memiliki daya tahan terhadap informasi yang bisa mengganggu psikologis. Penting untuk ikut serta pada grup diskusi anti hoaks. Kesadaran dalam menyaring informasi mana yang sekiranya perlu dibagikan dan mana yang tidak perlu dibagikan, menjadi langkah tepat di saat masyarakat dilanda kecemasan dan kepanikan akibat pandemi covid-19.

Adnan A. Saleh salah satu dosen psikologi IAIN Parepare mejelaskan dalam Webinar “Pribadi Sehat Mental Menghadapi Covid-19” via Google Meet, Rabu (1/4/2020), bahwa  “Anda termasuk kategori apa dalam fenomena sosial ini. Inovator (2.5%) Berani ambil risiko terhadap inovasi, mampu mengatasi ketidakpastian informasi, mampu mengatur keuangan, pengetahuan, dan teknik yang kompleks. Early Adaptor (13.5%) Opinion leader dan role model dalam sistem sosial, dihargai dan disegani oleh masyarakat / orang lain. Early Majority (34%), Sering berinteraksi tapi jarang mendapatkan posisi sebagai opinion leader, berhati-hati sebelum mengadopsi inovasi baru. Late Majority (34%), Skeptis / sangat berhati-hati, terdesak ekonomi, mendapatkan tekanan dari lingkungan.

Laggard (16%) Berorientasi masa lalu, curiga terhadap inovasi, masa pengambilan keputusan lama, tidak berpengaruh di masyarakat,” dikutip dari tulisan Mifdah Hilmiyah di halaman website kampus IAIN Parepare.

Secara sederhana langkah terbaik untuk menjaga kesehatan jiwa adalah melakukan kegiatan yang membuat tubuh dan pikiran nyaman. Sebaiknya, hindari terlalu banyak membaca atau melihat konten yang berhubungan dengan pandemi cocid-19 supaya tidak semakin stress. Tidur dan olahraga yang cukup. Walaupun physical distancing, tetaplah untuk tetap menjaga komunikasi. Cobalah mengungkapkan perasaan dan kekhawatiran perihal pandemi yang tengah dihadapi bersama orang-orang tertentu yang paling dipercaya, seperti keluarga, kekasih, atau sahabat. Berada di rumah tidak membuat kita untuk tidak mencuci tangan. Gunakan sabun dan air mengalir, sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk memastikan cuci tangan dilakukan selama 20 detik.


Kalimat “ fastabiqul khairat “ ( berlomba-lomba dalam kebaikan ), juga penulis ingin suntikkan kepada teman-teman yang berupaya berjuang di garda terdepan, yang mensosialisasikan dan yang berusaha memberi pemahaman terhadap orang tua dan masyarakat terkait bahaya pandemi covid-19 yang kita alami ini.  Semoga setiap kebaikan senantiasa menyertai.